Jumat, 06 Maret 2015

Yang tak sejalan meniti sendiri, mematuhi kian berontak, menepis yang tersikap dibalik gulaman, mewangi tak lagi sumringah semerbaknya, menjelma pualam kata yang tercekat penuh di untaian barisannya. Yang terpuja mengalahkan yang kian pergi lalu datang tanpa hina. Yang terbuang mengalahkan yang tak terhiraukan. Dan yang terkasih terkalahkan dengan yang berjarak.

Minggu, 01 Maret 2015

Ketika mata tak lagi bersua, ketika suara tak lagi bertatap, ketika raga tak berjumpa. Masih ada cerita yang  kian persulit. Memenjarakan rasa sendiri. Fakuaro masih bermain geliat, mengapa tak berhenti? Aku enggan menerka, ia masih berputar dengan alunan Fakuaro, menyisipkan kata yang tak perlu jawab. Disana kutunggu, menunggu yang tak kunjung berkunjung, tak menyelaraskan kata, mereka tiap titi rekanya. Dentingan tak lagi sama, alunan Fakuaro masih terngiang membuatku enggan lagi untuk meresapi alunannya, iya, hanya yang menunggu yang kutunggu. Kutunggu kau yang menunggu di altar penunggu.

Kamis, 05 Februari 2015

pikirku tak sampai pada titik yang jemu, monoton, kulakoni peranku. Merangkai yang harus terangkai, menyibak pada gugur senja malam. Melewati rekaan mereka, tak lagi peduli, semua terasa sendiri, bercecer rasa yang tak hirau, terasa biasa namun berbeda. Dengdam nyiur tak sampai pada indraku. Dan hari ini tak ada cerita, hambar.

Senin, 02 Februari 2015

perjalananku usai setapak ini, kujejaki dengan gegap dan syahdu, melewatkan yang enggan menerka lalu pergi. tak lagi peduli pada yang tak lagi menghiraukan, besemayam senja yang kian menghilang dalam peraduan, seperti senja yang akn selalu berpulang dan datang keesokannya. sama halnya dengan dia dan merek yang datang menyapa lalu membawa cerita dan pergi tak tahu alasannya. ini yang terjadi, tak lagi peduli, aku masih menapaki setapak yang tak lagi berjarak,aku menuju gerbang dihadapku, tak mengusik siapapun, bahkan ia yang ku tunggu setahun lagi, entah kan berpihak denganku atau lari dan tak peduli.

Minggu, 04 Januari 2015

meretas, bagai yang mengembang dengan sendirinya, melambaikan yang seharusnya tak pernah mengatakan dirinya pergi. semua berjalan dengan layakanya mereka yang berjalan semua begitu berjalan seperti tanpa skenario. aku menggpai langit yang tak pernah bisa kugapai, aku merajalela bersama malam yang kian lontarkan dingin senyap hingga belulang tak lagi kaku mungkin sudah mati.ini bagai parodi yang akan selesei pada waktu yang bersamaan semua akan berhenti pada titik dimana semua akan terasa jengah dan tak lagi bermain. semua berkakhir dengan sendirinya, mati!

hai ciamik



            Tak selamanya senja kan kau rasakan dengan orang yang sama, mengudaranya senja kian menipis, tak lagi jingga mungkin abu-abu katanya, semua terasa biasa saja bagiku, tapi tidak dengannya ia menganggap semua tak lagi indah terasa absurd, mungkin. Tulisanku tak juga rampung, kutanggalkan tanpa akhir yang jelas, tercecer tak ada barisan lagi yang terpampang mengudara yang ada hanya barisan sendu tanpa tertuang. Senja perlahan kembali menawan dengan tariannya, kutulis lagi ceritaku dengan cara yang sama menceritakan ia yang datang  dengan sejuta kejutan.
            Ia datang membawa cerita baru, mengajariku bagaimana yang tak kutahu, ia berbeda, berjumpa dan bertemu dengannya serasa bercermin pada diri. Semua terjadi tanpa rekayasa dan tak direkayasa, terjadi tanpa skenario mungkin skenario Tuhan, tapi tidak pada waktu yang tepat sebab ia tlah mengikat yang tlah ia puja. Sontak saja buatku memanas didada entah mengapa , kuabaikan perlahan seiring dengan jalan yang terus kudaki. Ia menyapa dengan sejuta ceria yang ia bawa membawaku mengikuti yang ia lakukan.
            Tak ada alasan bagiku untuk tak menolaknya, menolak segala ajakan pujian bahkan pemberian. Meski menahan rasa untuknya menyimpanya setidaknya melihatnya bahagia bersama yang terpilih cukup bagiku untuk membungkam mulutku untuk tak mengatakan “sebesar ini asal kau mengetahui rasaku” tetapi meski aku menaruh hati padanya aku tidak merasa bahagia saat ia berada dalam masalah dengan yang ia pilh, aku selalu bisa merasakan apa yang ia rasakan rasa kecewa gulana, gundah dan semacamnya aku tak ingin melihatnya seperti itu, aku lebih suka ia berbagi bahagia bersama yang ia pilih.