menelitik sebuah ikatan
menelusur janji yang ia bawa
semerbak wewangiannya menghilang perlahan
bagaimana ia melebur dengan memerah mawar merekah disana
sedang aku, tersusun rapi dalam barisan terdepan
aku tumbang
melihat merekah mawar tertawa menindasku
melihat kau mengenggam merekah mawar dengan berjuta bahagia
tak ada barisan kata terucap
pergi dengan menari diatas Fakuaromu
lebur semua
kau membangun kembali dengannya
sedang aku, masih tumbang disudut sana
kurasa, kau bahagia bersama memerah mawar ditanganmu
Sabtu, 27 September 2014
Jumat, 29 Agustus 2014
rasa pada dahan gugur
dan mematikan yang tak berarti, semua terasa sulit sebenarnya, menghilangkan yang terpatri semenjak lama, Merah salju yang dulu berada ditepian rindu menyerua pergi bersama yang setia. Pada dahan gugur aku titipkan sejuta rasaku yang takkan pernah ia tahu. Merah Salju yang kan selalu bersemai dalam hati meski tak ada lagi ada pada pandangan mataku, mata purnama yang takkan pernah kulihat lagi eloknya.
Kamis, 05 Juni 2014
AKU MENYEBUTNYA MERAH SALJU
Mataku tertarik pada yang menarik disana, tepat
didepanku. Kutemukan mata purnama teguh tertunduk malu dihadapku kusebut ia
Merah salju dan aku Ila. Di warung kopi itu kelekatkan
pandanganku, mengharap ada yang berbeda disana, cepat kutemukan dengan sedetik
waktu, tak lama aku menyelaminya, masuk kedalam mata purnama, benar aku tlah
menemukannya pikirku pendek seraya membuyarkan anganku yang entah bercecer
kemana perginya. Kulontarkan sepatah kata padanya, ia membalas, dengan wajah
tertegun aku tetap terus menyelaminya. Tak lama, senja tlah berpulang, gelap
mulai menyeruai kejam, mengoyak tulang belulangku, dingin mulai mencuat,
sebanarnya, tetapi hangatnya masih kurasa meski ia tlah bersujud meninggalkanku
sesaat. Dentingan meliuk menari tak terasa, ku akhiri pertemuan mata purnama kali
ini diiringi hangat senyum Merah salju.
Kulanjutkan pertemuan selanjutnya, sekali, berkali-kali
bahkan tak dapat kuhitung berapa kalinya. Mata purnamanya masih hangat, senyum
sapanya masih sama. Dengan harapku kutiti jejaknya, kutilam perlahan ia di
lubukku, kupatri ia direlungku meski ku tak tahu bagaimana ia rasa padaku,
nyatanya aku tetap melakukannya, selalu dan terus. Dengan penuh harap, ia
perlahan membalas perlahan, entah siapa yang sebenarnya melakukannya terlebih
dahulu, aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku lebih awal, atau mungkin
sebaliknya, yang jelas hariku serasa bernuansa saat ini.
Putaran
hari berlalu cepat tak terasa, hingga kudapati pesan yang membuatku terbelalak
sesaat
<Merah Salju
+628xxxxxxxxx>
Sejenakku
melupakan penatnya dunia pendidikan
Untuk mengaplikasikan apa yang
sudahku raih
Tapi sejenak ku tak bisa melupakan
dirinya yang kan menungguku kembali
Untuk meraih cita-cita dan harapan
bersama
Ku merindu dan berharap pertemuan
lagi
19/07/201x
18:54:04
Sejenakku
memahami, bulan suci akan segera berlalu, tentu saja ia akan berpulang pada
muara asalnya, ku iringi perginya dengan degup rasa tak menentu, entah mengapa akan ada yang lain ketika ia
kembali pada mataku nanti.
Ku
tunggu ia dipesisir senja, ia datang lagi tepat dengan mata purnama yang masih
saja sama hanya gundah itu tak bisa ia kelak, dengan mata purnama yang berbinar
dengan rasa yang aku tak tahu apa itu, ia lontarkan yang menurutku akan membuat
jantungkku berdecit untuk sekian detik, dan benar adanya, setelah ia berpulang
ia membawa cerita baru untukku dan dia, inilah awal dimana kisahku dengan merah salju dimulai. Tembok besar menghadang
tepat diantara aku dan merah salju.
Ku
lakoni sesuai dengan alur yang menurutku akan menjadi indah jika aku dapat
melalui dan bersabar, bulan pun cepat berganti. Bulan dingin dipenghujung tahun
seoalah menyatu denganku kala itu, angin busuk menguak di telingaku siang itu
di kedai bergaya bambu
to be continue .......
Senin, 12 Mei 2014
CERPEN "SENJA UNTUK NIBIRU"
SENJA UNTUK NIBIRU
Di
Nibiru tempat tinggalku, hujan setia hari rabu, dan reda pukul satu, di meja
kayu bangku berdecit, aku menunggu ditemani soda biru dan sebungkus rokok. Di
Nibiru aku mengadu temapt rintih laraku mengadu, kuhisap rokokku hingga tulang
kerangkaku mengilu dan seakan ingin kukatakan ini duniaku, aku bebas di Nibiru
tak terpenjara dari beban belenggu. Tak ada sebebas di Nibiru, semua kerja
hanya untuk makan dan sekedar membeli soda, tak membeli radio atau TV berwarna.
Perkenalkan aku Mimin dan Kikan temanku. Aku pria berambut acak dengan kaos
bertuliskan “FUCK TERRORIS” celana
pendek kusut dan memakai sandal jepit, sedang Kikan Wanita berkacamata yang
selalu menggunakan masker dan dilehernya bertuliskan haram memakai celana jeans
hitam. Kami berdua penduduk Nibiru, bekerja di salah satu cafe di ujung jalan
St.Morino.
Putaran
jam terasa cepat bagi mereka kali ini, tak terasa senja mengintip malu di
ufuknya, angin sepoi menelitik bulu penghuni Nibiru, seakan ingin menyematkan
pada sela jari-jari penghuni Nibiru. Jam kerjapun tlah usai, tapi Kikan enggan
cepat kembali pulang Cafe sudah tutup sejak 1jam yang lalu, Miminpun menghilang
2jam yang lalu lalu tapi disudut pelataran Cafe Kikan termenung dalam lamunan
senja itu, tertegun seorang diri, dihadapannya terdapat secangkir soda biru
pekat mengepul seraya ingin menari menyapa senja. Disampingnya terdapat
sejumput mawar hitam mengarah kearah Kikan.
Aku
datang dengan tergopoh-gopoh, dengan nafas terengah aku kembali ke Cafe, aku berhenti
sejenak, dari kejauhan kudapati Kikan
menatap senja Nibiru.
”apa
yang ia lakukan?”apa yang ia pikirkan?apa yang ia lamunkan?” benakku.
Dengan
nafas yang masih tergopoh aku mendekati Kikan yang termenung di pinggiran
pantai Nibiru.
“Takkah
kau lelah berdiri menatap lekat seperti itu padaku?cepat duduk dan jangan
memandangku seolah kau ingin memakanku seperti itu!” Ujar Kikan dengan cuek
padaku.
“Tak
perlu kau secuek itu padaku, apa yang kau lakukan disini?bukankah Cafe sudah
tutup sejam yang lalu.” Ujarku menimpali kata Kikan.
“Yah,
ak ingin membual dengan sejuta rasa penasaran tentang sore ini, takkah kau
rindu dengan Bumi?takkah kau rindu Neni?”. Lirih Kikan.
“Itukah
yang kau lamunkan sejak tadi?tentu, aku merindukan mereka yang berada di Bumi,
inginkah kau kembali?”
“Yah,
entah mengapa aku terasa bosan di Nibiru, aku merasa sepi disini tak seperti d
Bumi, kerja hanya untuk secangkir soda biru seperti katamu, aku merindukan
sahabatku Misa”.
“Kau
memilih berada di tempat ini, bagaimana bisa kembali kau ini sungguh lucu Ink.”
Ink
adalah panggilanku untuk Kikan dan dia memanggilku Am, terdengar aneh
sepertinya tapi kami sudah terbiasa dengan panggilan itu.
“Jangan
meledekku, kuwalat kau nanti Am”. Sambil berlalu meninggalkan Cafe.
“hey,
tunggu aku Ink”. Aku berlari mengejar Kikan meninggalkan Cafe senja terkalahkan
gelap, iya gelap mulai datang, malampun menggantikan senja indah kali ini.
Esoknya
Merah
jingga mulai menyatu dengan gelap malam, ada yang berbeda senja kali ini. Neni
duduk disebelahku menggambarkan sebuah isyarat, ada yang bergeming sepasang
mata itu, ada yang tersirat di wajah Mimin, Neni ingin mereka apa yang kupikirkan.
“Tentu
kau tau kedatanganku”
“Iya,
aku mengerti mengapa kau sekarang berada disisiku” Jawabku dengan sejumput
Senyuman.
“Lantas,
apa yang akan kau lakukan?”
“Akan
aku pikirkan, secepatnya akan kuputuskan”
“Sampai
kapan?” Dengan penuh harap.
“Tunggu
saja, dibenakku sudah ada yang kuputuskan tinggal aku memantapkannya”
“Baiklah,
kau akan meninggalkannya berapa lama?”
“Entah,
mungkin 1tahun, aku tak tahu” tak ada ekspresi di wajahku.
Tak
ada lagi perbincangan kembali, semua berasa senyap, sunyi, sepi, hanya udara
yang bersua lembut seakan ia ingin berbicara kepada mereka mengapa kalian
membisu, mengapa tak kalian ramaikan kembali Nibiru senja kala itu.
Kikan
sibuk dengan secangkir soda biru dan kedai yang perlahan meramaikan telinga
kika, tetap saja ia merasa sepi tak bersua dibenaknya, ia mulai bosan dengan
Nibiru terbesit dibenaknya ia merindukan Misa, teman berkeluh bosan di Bumi,
“apa kabarnya?bagaimana dia?aku merindukanmu Mis” bulir bening menetes pilu di
pipi merah senja itu. Tak ada lagi kejadian, semua membisu.
Saat semua terasa semu dan tak adil
bagi mereka
Aku mulai membisu dengan sebongkah
asa
Dengan berjuta tanya dalam benak
diri
Akankah semua terasa sama
Bagai temaram yang pudar sebelum
berlalu
Aku enggan mengadu dalam luluhnya
Bersama malam yang tak kunjung
pergi
Aku ditimang dalam sebuah keresahan
Ada yang bergeming kala malam tak
kunjung pulang dalam pagi
Ada harap yang tak kunjung datang
Udara menyibak semerbak malam
Aku terbuai Nibiru
Tersadar
lamunanku di buyarkan sosok yang tak asing bagi indraku, Mimin disana berjalan
dalam temaram lampu pinggiran kedai, ada yang berbeda, iya disebelahnya seorang
wanita berkacamata, anggun, lesung pipit tertekuk jelas di senyumnya. Dengan
mereka cukup lama tak disadari Mimin berada tepat disebelahnya bersama wanita lesung
pipit.
“Apa
yang kau lamunkan?mengapa seperti orang kesurupan saja.”
“Tidak
ada, hanya saja, aku ingin bertanya padamu, emmm, siapa...”
“Ini kekasihku Neni di Bumi, tentu itu kan yang akan kau tanyakan padaku?.” Dengan
wajah sinis dan sedikit senyuman kecut.
“ Mengapa kau tampak gusar?apa yang terjadi?”.
Tanya Kikan
“Aku
akan pulang ke Bumi, mungkin besok atau selambatnya lusa, kau bersedia ikut?”
Jawabku penuh hati-hati
“Kau
bilang kau takkan kembali, sekarang kau termakan oleh omonganmu sendiri Ding,
mengapa kau ke Bumi?karena Kekasihmu?” Jawaban Kikan dengan kesal selaras
dengan suara Cafe yang semakin gaduh.
“Mungkin,
yang jelas aku akanpulang ke Bumi, bukankah kau rindu dengan Bumi?kita pulang
bersama”
“Tidak,
kau pulanglah, aku tetap disini, aku tak kan kembali ke Bumi, Nibiru tempatku
saat ini, kau akan kembali?”
“Mungkin,
kau tunggu saja aku, aku takkan membiarkan sahabat sepertimu sendiri disini.”.
Setahun
berlalu, kuraskan senja-senja Kikan tak hangat dulu bersamaku, tentu ia
sendiri, aku ingin menemui di Nibiru, aku ingin kembali bersamamu kawan.
Lamunanku dibuyarkan oleh bunyi e-mail masuk di laptopku, kutemukan
disana berjejer tulisa, iya itu dari Kikan, secepatnya kubuka.
Senjaku tak lagi jingga, mawar
hitamku semakin layu di pot ini
Soda biru tak lagi mengepul panas, Bagaimna
engkau disana?
Aku merindukan senja bersamamu,
sahabat
Cepat kembali, Senja Nibiru tentu
kan menyambutmu kelak, kau kembali
Ku tunggu kedatanganmu
Tentuku
kan kembali, Sahabat, untuk senja di Nibiru.
Minggu, 13 April 2014
pelangiku nanti
semenjak mataku enggan beradu dalam temaram yang tlah berlalu
aku mulai menjelma bersama sinkronisasi bayang jingga
menyikap, bersua dengan senja yang seolah mengalahkan semua rasaku
melewatkan masa yang pernah hadir dalam memoarku
mungkin relungku bahagiaku tlah menipis, atau bagaimana aku tak tahu
Tuhanku yang tahu, kupasrahkan saja
semoga ku temukan pelangi pada saatnya nanti
aku mulai menjelma bersama sinkronisasi bayang jingga
menyikap, bersua dengan senja yang seolah mengalahkan semua rasaku
melewatkan masa yang pernah hadir dalam memoarku
mungkin relungku bahagiaku tlah menipis, atau bagaimana aku tak tahu
Tuhanku yang tahu, kupasrahkan saja
semoga ku temukan pelangi pada saatnya nanti
Senin, 07 April 2014
Nibiru
Di Nibiru tempat tinggalku, hujan
setia hari rabu, dan reda pukul satu, di meja kayu bangku berdecit, aku
menunggu ditemani soda biru dan sebungkus rokok. Di Nibiru aku mengadu tempat
rintih laraku mengadu, kuhisap rokokku hingga tulang kerangkaku mengilu dan
seakan ingin kukatakan ini duniaku, aku bebas di Nibiru tak terpenjara dari
beban belenggu. Tak ada sebebas di Nibiru, semua kerja hanya untuk makan dan
sekedar membeli soda, tak membeli radio atau TV berwarna. Perkenalkan aku Mimin
dan Kikan temanku. Aku pria berambut acak dengan kaos bertuliskan “FUCK
TERRORIS” celana pendek kusut dan memakai sandal jepit, sedang Kikan Wanita
berkacamata yang selalu menggunakan masker dan dilehernya bertuliskan haram
memakai celana jeans hitam. Mereka berdua penduduk Nibiru, bekerja di salah satu
cafe di ujung jalan St.Morino. dengan wajah tertekuk Mimin menelusur sepanjang
jalan St.Morino tak peduli dengab Kikan disebelahnya, ia tetap tertekuk, di
tatapi mata Mimin, ia hanya menoleh dingin pada Kikan, Kikan enggan bertanya,
“wajahmu tak kalah kusut dengan benang nenek tua.” Mimin hanya lontarkan senyum
sinis Kikan seketika diam, ada keheningan sesudahnya hingga mereka tiba
dipelataran cafe pagi itu.
to be continue
to be continue
Jumat, 04 April 2014
Senyum Hangat Mimin
Senyum Hangat Mimin
Terlihat Nibiru tak
lagi menghangatkan Mimin dan Kikan, Nibiru berubah menjadi kejam bagi Kikan,
tak akan ada senyum hangat Nibiru semua berubah menjadi dingin, angkuh. Tetap
saja Mimin dengan senyum getirnya mengumbar sebuah kebingungan untuk Kikan,
menambah pertanyaan bagi Kikan sore itu.
“Yah, ak ingin membual
dengan sejuta rasa penasaran tentang sore ini”. Lirih Kikan selara pergi
meninggalkan Mimin di pelataran kafe. Dengan mata yang sedikit enggan melirik,
dilihatnya Kikan pergi berlalu dari dirinya
“Andai kau tau maksud
dari raut wajahku” seru Mimin dalam batin.
Senja berlalu begitu
cepatnya, yang tersamarkan bersama sisa-sisa malam nan membosankan bagi Kikan.
Ada yang berbeda di pagi itu, saat Kikan membuka mata ada Mimin bediri tepat di
sampingnya, membawa sebuah senyum hangat, tetapi ruangan ini asing bagi Kikan,
kamar berukuran 3x3 yang biasanya ketika ia membuka mata kini ukuran itu
berubah menjadi 4x6 bernuansa putih, bau menyengat khas aroma Rumah Sakit, lama
ia merenung, ia ingin bertanya pada Ding
“kamu berada dirumah sakit ink” di iringi
senyum dari bibir Mimin.
Iya, Mimin memanggil Kikan Ink, sebaliknya
Kikan memanggil Mimin dengan sebutan Ding.
“Apa yang terjadi
padaku Ding?mengapa aku bisa sampai disini?apa....”
“Tak usah cerewet, diam
dan pergilah istirahat lagi, kau tampak layu dan kusut!” Mimin menyaut cepat,
tak ada lagi senyum dirautnya.
Dengan tatapan yang
penuh tanya, dirasakan tubuh Kikan memberi signal yang membuatnya enggan untuk
beranjak dari ranjang Rumah Sakit. Seolah tak ada tenaga untuk ia berucap lagi,
semua berasa mati.
Melihat Kikan
bmerasakan kelemahan dalam dirinya, Mimin bergegas memberi respon kepada Mimin
dengan menyodorkan segelas air bening, Mimin menuntun Kikan perlahan menguk
setetes air bening yang membuat dahaga sekilas hilang entah terbawa arus air
bening yang diteguknya, ataukah karena Mimin yang memuntunnya ataukah memang
dia kehausan, dirasakan getar dalam benak, jantungpun enggak berpacu dengan
detak jarum jam kamar itu, detak dan tek berlomba dengan kencangnya sampai
Mimin bisa merasakan detak jantung Kikan.
“Tak usah begitu,
hilangkan kecepatan detak jantugmu itu yang bisa membuatku takut, kembalikan
seperti semula,kasian jantungmu!” Kilas Mimin, seraya ia menyembunyikan detak
jantung yang sama seperti Kikan.
“Apa maksudmu?aku...aku
ini hanya kehausan makanya sampai jantungku berdetak secepat ini!” Kilah Kikan
cepat, dengan raut muka yang perlahan memerah dan pudar.
to be continue .......
Langganan:
Postingan (Atom)