Selasa, 20 Oktober 2015

aku menyebutnya merahsalju
tiap rekaan yang kian menyatu
rintihan yang selalu berpadu
melebur menjadi satu
ak selalu rindu
jangan berlalu

Rabu, 14 Oktober 2015

maruta menyayat yang tak lagi bergeliat
fakuaro yang kian menepi
menyibakkan yang tak lagi peduli
menembus yang tak lagi singgah
terkukuh yang tak lagi tersemai
pada dahan bahagia yang mengering
aku terbuai, terbuai bualan cemooh

Jumat, 07 Agustus 2015

Senja Sejingga Pantai Bengkung






Malang. Hai senja batu Lepek 21 Juli 2015 tepatmu pantai batu Bengkung. Senjamu sejingga temarammu hari itu, bukan lagi. Aku melihatmu dengan aksen penambah tepat dimataku, bukan lagi indah melainkan teramat indah. Gulungan dibawah langitmu seperti nyanyian merdu penghantar lelap, yang terpijak sebersih langitmu hari ini. Tapi tidak dengan pijakan menuju tempatmu yang siap mengucurkan segarnya didalam tubuhku. Hamparan hijau menambah warna pada lukisan mataku. Debur temanmu sungguh indah semakin kurasa, dengan nyanyian sepoi angin berhembus entah kemana arahnya. melayang segerombol tepat diatasku, mencari penghidupan di debur temanmu. Sungguh pemanjaan mataku hari ini, karunia Tuhan yang baru terasa kulihat. Hai lukisan dimataku ciptaanNya, terimakasih untuk pengobat indraku hari ini.

Kamis, 06 Agustus 2015

Senja dalam Temaram Jingga




           Temaram parafrase enggan menepi, memudar enggan, menghilang pun enggan. Entah bagaimana inginnya, seperti yang bukan tereka lagi. Masih pada senja yang sama menepikan yang tersamar, menepikan yang memudar perlahan, menepikan yang terlihat. Jingga elok Mudita senja dalam diam, bukan lagi. Senja bergeliat pada Fakuaro yang kian menjelma bersama malam.

Kisah yang tereka menepikan yang menerka, pada ia yang tak ingin lagi terlihat. Mati tak bernama, bersama nada kisah bersama mimpi. Lakuna pun masih terasa membayangkan yang tak bisa terbayang, entah bagaimana awalnya entah bagaimana akhirnya. Ia yang akan dijuluki derai bahagia sontak berubah bukan lagi. Bukan, ia bukan derai bahagia ia menghilang setelah pelangi datang kemarin sore. Saat menunggu senja yang tak lagi datang dengan keterasingan, aku sendiri.

to be continue . . .

Jumat, 06 Maret 2015

Yang tak sejalan meniti sendiri, mematuhi kian berontak, menepis yang tersikap dibalik gulaman, mewangi tak lagi sumringah semerbaknya, menjelma pualam kata yang tercekat penuh di untaian barisannya. Yang terpuja mengalahkan yang kian pergi lalu datang tanpa hina. Yang terbuang mengalahkan yang tak terhiraukan. Dan yang terkasih terkalahkan dengan yang berjarak.

Minggu, 01 Maret 2015

Ketika mata tak lagi bersua, ketika suara tak lagi bertatap, ketika raga tak berjumpa. Masih ada cerita yang  kian persulit. Memenjarakan rasa sendiri. Fakuaro masih bermain geliat, mengapa tak berhenti? Aku enggan menerka, ia masih berputar dengan alunan Fakuaro, menyisipkan kata yang tak perlu jawab. Disana kutunggu, menunggu yang tak kunjung berkunjung, tak menyelaraskan kata, mereka tiap titi rekanya. Dentingan tak lagi sama, alunan Fakuaro masih terngiang membuatku enggan lagi untuk meresapi alunannya, iya, hanya yang menunggu yang kutunggu. Kutunggu kau yang menunggu di altar penunggu.