senjaku tak lagi mengabu, ia bersemayam tetap meski tak terhiraukan, meski matapurnama tak lagi mrngabikan senja Nibiru, wahai Senja engkaulah penegak rasaku, menggugurkan yang tak seharusnya memudar.Memiliki rasa yang berdiam disana, menyibukkan diri, mengingkari "cemburu" "iri".
mengapa kau masih bersama ia?masihkah kau ingin bersamanya?melukis kisah hingga ajal?menggetarkan dunia dengan kisahmu dan ia?aku masih seperti dulu, dengan rasaku yang masih tetap sama. Tak ingin melihatmu terkapar dalam pembaringan kisah yang tak tahu kemana kan membawamu, aku dengan sejuta diamku, dengan sejuta rasa kagumku, mengagumimu dalam temaram senja yang enggan hilang dan datang seakan maruta kehilangan induknya. Kau mencintainya?kurasa kau teramat mencintainya. kutinggalkan kau dengan rasa yang tak berubah, nikmati duniamu, dengan dia yang teramat kau damba.
Senin, 27 Oktober 2014
Minggu, 26 Oktober 2014
mengabu
mematikan yang telah mati
bergelayut pada senja yang enggan mengadu
meneriaki bersama yang tak lagi bersua
ini yang tak lagi sama
menyibak mewangi rindu yang tak menentu
inikah kisah parodi yang tak terjamah
mendiami luka yang tak kunjung mengabu
bergelayut pada senja yang enggan mengadu
meneriaki bersama yang tak lagi bersua
ini yang tak lagi sama
menyibak mewangi rindu yang tak menentu
inikah kisah parodi yang tak terjamah
mendiami luka yang tak kunjung mengabu
Jumat, 03 Oktober 2014
merah salju
Dan mematikan yang tak
berarti, semua terasa sulit sebenarnya, menghilangkan yang terpatri semenjak
lama, Merah salju yang dulu berada ditepian rindu menyerua pergi bersama yang
setia. Pada dahan gugur aku titipkan sejuta rasaku yang takkan pernah ia tahu.
Merah Salju yang kan selalu bersemai dalam hati meski tak ada lagi ada pada
pandangan mataku, mata purnama yang takkan pernah kulihat lagi eloknya.
Seterusnya ila terbiasa tak terhiraukan. Disenja yang tak biasa sore itu,
terbesit merah salju sekelibat dalam angannya, membuka kembali semua memoar
yang lalu, terdengar tombol pada layar hitam putih usang,
Dari Mimin teruntuk Kikan
Aku
mendengarkan kata demi kata yang di bicarakannya.
Minggu september
2014,,malam itu pukul 20.30,
Dia bercerita tentang
temannya,yang mungkin teman hidupnya nanti.
Rasa itu
kembali,entah dari pintu depan atau samping rumahnya ia masuk.
Terasa sedikit ngilu
di sebelah kiri dada,memaksanya masuk sedikit demi sedikit.
Aku tersenyum
,mencoba tersenyum tepatnya,tapi rasa itu mengganjal separuh senyumku.
Entahlah,aku iri
padanya ,yang di bicarakannya.
Aku ingin seperti dia
yang kau puja , aku ingin seperti dia yang membuatmu terlena.
Mengapa?
Aku tak tau bila kau
bertanya seperti itu.
Memandangimu saja aku
sudah lupa cara kembali ke hidup yang nyata itu bagaimana.
Aku di bawah
kacamatamu hanya bisa tersenyum melihatmu dengannya.
Mendoakannya ,
mendoakanmu.
Ternyata rasa yang
kau rasakan sejak dulu seperti ini,aku hanya menduga.
Entah itu benar atau
salah.
Dada kiriku sekarang
saat bertemu denganmu terasa hidup kembali,abjad ku hidup dan huruf-hurufku
berlarian di atas kertas yang masih basah dengan tinta.
Sastra merapikannya ,
tapi aku dari dulu tak bisa membedakan sastra dengan puisi.entah,mungkin otak
ku yang kurang mampu atau aku tak mau mampu.
Terkadang saat ayahku
membebani otak ku dengan kata-katanya,lirik-liriknya ,aku ingat padamu.
Mungkin terdengar absurd
di telinga , tapi kenyataannya seperti itu.
Kacamatamu
membangunkan ku dari lamunanku.
Aku melamun karna
rindu.
Tapi kau bukan
milikku.
Dan mataku nyaris
ungu melihatmu.
Kenapa begitu?
Jawabnya aku tak tau.
Kenapa tak tau?
Jawabnya rindu tak
perlu alasan.
Jam di atas kepalamu
sudah menjerit menyuruhku pergi,lewat 20.40.
Aku melihatmu dengan
tersenyum,tapi ini senyum ku yang tak biasa.
Senyum yang
sepertinya ingin menyatakan sesuatu,mungkin rindu,mungkin ingin sekali lagi
bertemu,atau mungkin aku untukmu.
Aku ingat sesuatu di
massa lalu.
Setiap minggu
menunggu tengah malam untuk menelefon mu , sekedar berbincang soal ilmu , atau
tertawa basi soal gurauan-gurauan palsu.
Aku selalu suka
menanyakan kabar tentang orang yang kau puja,tapi yang menyakitimu juga.
Tapi mengapa kau
masih segan dengannya?
Tidakkah kau sakit
karnanya?
Aku tau semua
tentangmu?
Penyakitmu selalu
hidung,kau suka makanan siap saji,dan kau suka bila aku menyebutmu Ny.ciamik.
Aku dulu menamainya
kikan,lalu sekarang aku berubah pikiran.
Sekarang ku namai dia
dengan kikankablillah.
Dari mimin
rakhmannda.chau!
Sabtu, 27 September 2014
sedang aku
menelitik sebuah ikatan
menelusur janji yang ia bawa
semerbak wewangiannya menghilang perlahan
bagaimana ia melebur dengan memerah mawar merekah disana
sedang aku, tersusun rapi dalam barisan terdepan
aku tumbang
melihat merekah mawar tertawa menindasku
melihat kau mengenggam merekah mawar dengan berjuta bahagia
tak ada barisan kata terucap
pergi dengan menari diatas Fakuaromu
lebur semua
kau membangun kembali dengannya
sedang aku, masih tumbang disudut sana
kurasa, kau bahagia bersama memerah mawar ditanganmu
menelusur janji yang ia bawa
semerbak wewangiannya menghilang perlahan
bagaimana ia melebur dengan memerah mawar merekah disana
sedang aku, tersusun rapi dalam barisan terdepan
aku tumbang
melihat merekah mawar tertawa menindasku
melihat kau mengenggam merekah mawar dengan berjuta bahagia
tak ada barisan kata terucap
pergi dengan menari diatas Fakuaromu
lebur semua
kau membangun kembali dengannya
sedang aku, masih tumbang disudut sana
kurasa, kau bahagia bersama memerah mawar ditanganmu
Jumat, 29 Agustus 2014
rasa pada dahan gugur
dan mematikan yang tak berarti, semua terasa sulit sebenarnya, menghilangkan yang terpatri semenjak lama, Merah salju yang dulu berada ditepian rindu menyerua pergi bersama yang setia. Pada dahan gugur aku titipkan sejuta rasaku yang takkan pernah ia tahu. Merah Salju yang kan selalu bersemai dalam hati meski tak ada lagi ada pada pandangan mataku, mata purnama yang takkan pernah kulihat lagi eloknya.
Kamis, 05 Juni 2014
AKU MENYEBUTNYA MERAH SALJU
Mataku tertarik pada yang menarik disana, tepat
didepanku. Kutemukan mata purnama teguh tertunduk malu dihadapku kusebut ia
Merah salju dan aku Ila. Di warung kopi itu kelekatkan
pandanganku, mengharap ada yang berbeda disana, cepat kutemukan dengan sedetik
waktu, tak lama aku menyelaminya, masuk kedalam mata purnama, benar aku tlah
menemukannya pikirku pendek seraya membuyarkan anganku yang entah bercecer
kemana perginya. Kulontarkan sepatah kata padanya, ia membalas, dengan wajah
tertegun aku tetap terus menyelaminya. Tak lama, senja tlah berpulang, gelap
mulai menyeruai kejam, mengoyak tulang belulangku, dingin mulai mencuat,
sebanarnya, tetapi hangatnya masih kurasa meski ia tlah bersujud meninggalkanku
sesaat. Dentingan meliuk menari tak terasa, ku akhiri pertemuan mata purnama kali
ini diiringi hangat senyum Merah salju.
Kulanjutkan pertemuan selanjutnya, sekali, berkali-kali
bahkan tak dapat kuhitung berapa kalinya. Mata purnamanya masih hangat, senyum
sapanya masih sama. Dengan harapku kutiti jejaknya, kutilam perlahan ia di
lubukku, kupatri ia direlungku meski ku tak tahu bagaimana ia rasa padaku,
nyatanya aku tetap melakukannya, selalu dan terus. Dengan penuh harap, ia
perlahan membalas perlahan, entah siapa yang sebenarnya melakukannya terlebih
dahulu, aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku lebih awal, atau mungkin
sebaliknya, yang jelas hariku serasa bernuansa saat ini.
Putaran
hari berlalu cepat tak terasa, hingga kudapati pesan yang membuatku terbelalak
sesaat
<Merah Salju
+628xxxxxxxxx>
Sejenakku
melupakan penatnya dunia pendidikan
Untuk mengaplikasikan apa yang
sudahku raih
Tapi sejenak ku tak bisa melupakan
dirinya yang kan menungguku kembali
Untuk meraih cita-cita dan harapan
bersama
Ku merindu dan berharap pertemuan
lagi
19/07/201x
18:54:04
Sejenakku
memahami, bulan suci akan segera berlalu, tentu saja ia akan berpulang pada
muara asalnya, ku iringi perginya dengan degup rasa tak menentu, entah mengapa akan ada yang lain ketika ia
kembali pada mataku nanti.
Ku
tunggu ia dipesisir senja, ia datang lagi tepat dengan mata purnama yang masih
saja sama hanya gundah itu tak bisa ia kelak, dengan mata purnama yang berbinar
dengan rasa yang aku tak tahu apa itu, ia lontarkan yang menurutku akan membuat
jantungkku berdecit untuk sekian detik, dan benar adanya, setelah ia berpulang
ia membawa cerita baru untukku dan dia, inilah awal dimana kisahku dengan merah salju dimulai. Tembok besar menghadang
tepat diantara aku dan merah salju.
Ku
lakoni sesuai dengan alur yang menurutku akan menjadi indah jika aku dapat
melalui dan bersabar, bulan pun cepat berganti. Bulan dingin dipenghujung tahun
seoalah menyatu denganku kala itu, angin busuk menguak di telingaku siang itu
di kedai bergaya bambu
to be continue .......
Langganan:
Postingan (Atom)