Senin, 27 Oktober 2014

senjaku tak lagi jingga

senjaku tak lagi mengabu, ia bersemayam tetap meski tak terhiraukan, meski matapurnama tak lagi mrngabikan senja Nibiru, wahai Senja engkaulah penegak rasaku, menggugurkan yang tak seharusnya memudar.Memiliki rasa yang berdiam disana, menyibukkan diri, mengingkari  "cemburu" "iri".
mengapa kau masih bersama ia?masihkah kau ingin bersamanya?melukis kisah hingga ajal?menggetarkan dunia dengan kisahmu dan ia?aku masih seperti dulu, dengan rasaku yang masih tetap sama. Tak ingin melihatmu terkapar dalam pembaringan kisah yang tak tahu kemana kan membawamu, aku dengan sejuta diamku, dengan sejuta rasa kagumku, mengagumimu dalam temaram senja yang enggan hilang dan datang seakan maruta kehilangan induknya. Kau mencintainya?kurasa kau teramat mencintainya. kutinggalkan kau dengan rasa yang tak berubah, nikmati duniamu, dengan dia yang teramat kau damba.

Minggu, 26 Oktober 2014

mengabu

mematikan yang telah mati
bergelayut pada senja yang enggan mengadu
meneriaki bersama yang tak lagi bersua
ini yang tak lagi sama
menyibak mewangi rindu yang tak menentu
inikah kisah parodi yang tak terjamah
mendiami luka yang tak kunjung mengabu

Jumat, 03 Oktober 2014

merah salju



Dan mematikan yang tak berarti, semua terasa sulit sebenarnya, menghilangkan yang terpatri semenjak lama, Merah salju yang dulu berada ditepian rindu menyerua pergi bersama yang setia. Pada dahan gugur aku titipkan sejuta rasaku yang takkan pernah ia tahu. Merah Salju yang kan selalu bersemai dalam hati meski tak ada lagi ada pada pandangan mataku, mata purnama yang takkan pernah kulihat lagi eloknya. Seterusnya ila terbiasa tak terhiraukan. Disenja yang tak biasa sore itu, terbesit merah salju sekelibat dalam angannya, membuka kembali semua memoar yang lalu, terdengar tombol pada layar hitam putih usang,

Dari Mimin teruntuk Kikan






Aku mendengarkan kata demi kata yang di bicarakannya.
Minggu september 2014,,malam itu pukul 20.30,
Dia bercerita tentang temannya,yang mungkin teman hidupnya nanti.
Rasa itu kembali,entah dari pintu depan atau samping rumahnya ia masuk.
Terasa sedikit ngilu di sebelah kiri dada,memaksanya masuk sedikit demi sedikit.
Aku tersenyum ,mencoba tersenyum tepatnya,tapi rasa itu mengganjal separuh senyumku.
Entahlah,aku iri padanya ,yang di bicarakannya.
Aku ingin seperti dia yang kau puja , aku ingin seperti dia yang membuatmu terlena.
Mengapa?
Aku tak tau bila kau bertanya seperti itu.
Memandangimu saja aku sudah lupa cara kembali ke hidup yang nyata itu bagaimana.
Aku di bawah kacamatamu hanya bisa tersenyum melihatmu dengannya.
Mendoakannya , mendoakanmu.
Ternyata rasa yang kau rasakan sejak dulu seperti ini,aku hanya menduga.
Entah itu benar atau salah.
Dada kiriku sekarang saat bertemu denganmu terasa hidup kembali,abjad ku hidup dan huruf-hurufku berlarian di atas kertas yang masih basah dengan tinta.
Sastra merapikannya , tapi aku dari dulu tak bisa membedakan sastra dengan puisi.entah,mungkin otak ku yang kurang mampu atau aku tak mau mampu.
Terkadang saat ayahku membebani otak ku dengan kata-katanya,lirik-liriknya ,aku ingat padamu.
Mungkin terdengar absurd di telinga , tapi kenyataannya seperti itu.
Kacamatamu membangunkan ku dari lamunanku.
Aku melamun karna rindu.
Tapi kau bukan milikku.
Dan mataku nyaris ungu melihatmu.
Kenapa begitu?
Jawabnya aku tak tau.
Kenapa tak tau?
Jawabnya rindu tak perlu alasan.
Jam di atas kepalamu sudah menjerit menyuruhku pergi,lewat 20.40.
Aku melihatmu dengan tersenyum,tapi ini senyum ku yang tak biasa.
Senyum yang sepertinya ingin menyatakan sesuatu,mungkin rindu,mungkin ingin sekali lagi bertemu,atau mungkin aku untukmu.
Aku ingat sesuatu di massa lalu.
Setiap minggu menunggu tengah malam untuk menelefon mu , sekedar berbincang soal ilmu , atau tertawa basi soal gurauan-gurauan palsu.
Aku selalu suka menanyakan kabar tentang orang yang kau puja,tapi yang menyakitimu juga.
Tapi mengapa kau masih segan dengannya?
Tidakkah kau sakit karnanya?
Aku tau semua tentangmu?
Penyakitmu selalu hidung,kau suka makanan siap saji,dan kau suka bila aku menyebutmu Ny.ciamik.
Aku dulu menamainya kikan,lalu sekarang aku berubah pikiran.
Sekarang ku namai dia dengan kikankablillah.
Dari mimin rakhmannda.chau!









Sabtu, 27 September 2014

sedang aku

menelitik sebuah ikatan
menelusur janji yang ia bawa
semerbak wewangiannya menghilang perlahan
bagaimana ia melebur dengan memerah mawar merekah disana
sedang aku, tersusun rapi dalam barisan terdepan
aku tumbang 
melihat merekah mawar tertawa menindasku
melihat kau mengenggam merekah mawar  dengan berjuta bahagia
tak ada barisan kata terucap
pergi dengan menari diatas Fakuaromu
lebur semua
kau membangun kembali dengannya
sedang aku, masih tumbang disudut sana
kurasa, kau bahagia bersama memerah mawar ditanganmu

Jumat, 29 Agustus 2014

rasa pada dahan gugur

dan mematikan yang tak berarti, semua terasa sulit sebenarnya, menghilangkan yang terpatri semenjak lama, Merah salju yang dulu berada ditepian rindu menyerua pergi bersama yang setia. Pada dahan gugur aku titipkan sejuta rasaku yang takkan pernah ia tahu. Merah Salju yang kan selalu bersemai dalam hati meski tak ada lagi ada pada pandangan mataku, mata purnama yang takkan pernah kulihat lagi eloknya.

Kamis, 05 Juni 2014

AKU MENYEBUTNYA MERAH SALJU




            Mataku tertarik pada yang menarik disana, tepat didepanku. Kutemukan mata purnama teguh tertunduk malu dihadapku kusebut ia Merah salju dan aku Ila. Di warung kopi itu kelekatkan pandanganku, mengharap ada yang berbeda disana, cepat kutemukan dengan sedetik waktu, tak lama aku menyelaminya, masuk kedalam mata purnama, benar aku tlah menemukannya pikirku pendek seraya membuyarkan anganku yang entah bercecer kemana perginya. Kulontarkan sepatah kata padanya, ia membalas, dengan wajah tertegun aku tetap terus menyelaminya. Tak lama, senja tlah berpulang, gelap mulai menyeruai kejam, mengoyak tulang belulangku, dingin mulai mencuat, sebanarnya, tetapi hangatnya masih kurasa meski ia tlah bersujud meninggalkanku sesaat. Dentingan meliuk menari tak terasa, ku akhiri pertemuan mata purnama kali ini diiringi hangat senyum Merah salju.
            Kulanjutkan pertemuan selanjutnya, sekali, berkali-kali bahkan tak dapat kuhitung berapa kalinya. Mata purnamanya masih hangat, senyum sapanya masih sama. Dengan harapku kutiti jejaknya, kutilam perlahan ia di lubukku, kupatri ia direlungku meski ku tak tahu bagaimana ia rasa padaku, nyatanya aku tetap melakukannya, selalu dan terus. Dengan penuh harap, ia perlahan membalas perlahan, entah siapa yang sebenarnya melakukannya terlebih dahulu, aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku lebih awal, atau mungkin sebaliknya, yang jelas hariku serasa bernuansa saat ini.
Putaran hari berlalu cepat tak terasa, hingga kudapati pesan yang membuatku terbelalak sesaat
<Merah Salju +628xxxxxxxxx>
 Sejenakku melupakan penatnya dunia pendidikan
Untuk mengaplikasikan apa yang sudahku raih
Tapi sejenak ku tak bisa melupakan dirinya yang kan menungguku kembali
Untuk meraih cita-cita dan harapan bersama
Ku merindu dan berharap pertemuan lagi

19/07/201x 18:54:04

Sejenakku memahami, bulan suci akan segera berlalu, tentu saja ia akan berpulang pada muara asalnya, ku iringi perginya dengan degup rasa tak menentu,  entah mengapa akan ada yang lain ketika ia kembali pada mataku nanti.
Ku tunggu ia dipesisir senja, ia datang lagi tepat dengan mata purnama yang masih saja sama hanya gundah itu tak bisa ia kelak, dengan mata purnama yang berbinar dengan rasa yang aku tak tahu apa itu, ia lontarkan yang menurutku akan membuat jantungkku berdecit untuk sekian detik, dan benar adanya, setelah ia berpulang ia membawa cerita baru untukku dan dia, inilah awal dimana kisahku dengan  merah salju dimulai. Tembok besar menghadang tepat diantara aku dan merah salju.
Ku lakoni sesuai dengan alur yang menurutku akan menjadi indah jika aku dapat melalui dan bersabar, bulan pun cepat berganti. Bulan dingin dipenghujung tahun seoalah menyatu denganku kala itu, angin busuk menguak di telingaku siang itu di kedai bergaya bambu 

to be continue .......