Rabu, 13 Maret 2013

PENULISAN LAPORAN ANALISIS KARYA SASTRA DENGAN MENGGUNAKAN UNSUR-UNSUR IMAJINATIF DALAM SASTRA SEBAGAI BENTUK KRITIK TERHADAP REALITA


PENULISAN LAPORAN ANALISIS KARYA SASTRA DENGAN MENGGUNAKAN
UNSUR-UNSUR IMAJINATIF DALAM SASTRA SEBAGAI BENTUK KRITIK TERHADAP REALITA

Dosen Pembimbing; M. Badrih, M.Pd






    DI SUSUN OLEH :

         
Faturrahman           (2110710002)
Nadhir                      (2110710003)
Kuntiya Kablillah    (2110710004)






UNIVERSITAS ISLAM MALANG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2013




Penulisan Laporan Analisis Karya Sastra Bentuk Unsur-Unsur Imajinatif
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Marionette adalah sebuah karya sastra yang dalam. Penggunaan bahasa serta isi yang terkadung didalamny memiliki kesan yang kuat dan dalam. Diambil dari sudut pandang orang pertama, walau berjudul “Marionette”, sang pengarang justru tak meletakan Marrionette sebagai tokoh utama dari setiap mini seri yang teradapat dalam novel tersebut. Walau jelas Marionette masih merupakan topik yang selalu ada dalam setiap mini serinya.
Marionette Minezzeko, adalah sebuah tokoh yang diciptakan sang pengarang sebagai tokoh seorang anak gadis kecil yng memiliki kelebihan dalam indra ke enam. Seorang gadis yang mampu mengetahui sesuatu yang terkadang tidak masuk akal bagi masyarakat umum. Novel ini sendiri menceritakan Marionette sebagai serng gadis kecil yang mampu berhebungan dengan kematian serta roh-roh gaib. Digambarkan sebagai tokoh yang bijak dalam artian yang sedikit menakutkan.
Sang pengarang dalam novel ini berhasil membangun aura mistis dan gelap, serta mampu menciptakan tokoh-tokoh yang memiliki berbagai macam jiwa yang tergambar begitu jelas dalam setiap kalimat yang disampaikannya. Novel ini berkaitan erat dengan Psikologi, dimana artian dari Psikologi juga merujuk pada penggambaran jiwa dalam satu tokoh. Tidak berpusat pada kehidupan, namun memiliki penjelasan pada hal-hal kecil yang patut diperhatikan.
Jika ditelaah menurut Psikologi, tokoh-tokoh yang berada di novel ini—terutama Marionette—memiliki keragaman pemikiran dari kehidupan manusia. Menceritakan pula, bagaimana ketertekanan batin serta pemikiran-pemikiran yang terlihat dangkal. Jelas dalam hal ini, novel ini akan sangat mudah di kaji dalam sisi Psikologi.
Novel ini memberikan banyak pemikiran yang gambang dari setiap yokohnya, memberikan pembelajaran tetntang bagaimana cara berfikir sesorang di bawah alam sadarnya. Yang membuat seseorang tersebut mampu mengambil tindakan sesuai bagaimana cara dia berfikir. Kita dapat mempelajari berbagai macam sifat dalam novel ini, yang jelas sangat berkaitan dengn Psikologi.
Mengenai Sastra, novel ini jelas memiliki hubungan yang erat dengan kesusatraan. Baik dalam segi pemilihan bahasa, maupun pembelajaran perparagrafnya. Dalam hubungannya dengan Kesusastraan dan Psikologi, novel ini memberikan cerminan yang sangat berbeda dengan kesusastraan yng biasanya tehubung dalam kehidupan. Karya dalam Sastra dan psikologi, mendobrak pemikiran dangkal mengenai kesusastraan yang biasanya terdapat dalam hubungannya dengan kehidupan.

1.2  Fokus masalah
1.      Bagaimana gambaran unsur imajinatif dalam novel “Marionette” meliputi (1)khayalan, (2) tidak pernah terjadi, (3) tidak logis, dan (4) kebenarannya relatif.
2.      Bagaimana kritik dalam novel “Marionette” meliputi (1) perbedaan persepsi (2) memberikan saran (3) memberikan penilaian, dan (4) memberikan inovatif motivasi.
3.      Bagaimana gambaran realita dalam novel “Marionette” meliputi (1) nyata, (2) pernah terjadi, (3) logis, dan (4) kebenaran konkret.




















BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 UNSUR IMAJINATIF
2.1.1  Khayalan
Khayalan dalam bahasa sehari-hari adalah keyakinan tetap yang palsu, aneh, atau berasal dari penipuan. Khayalan adalah sesuatu perbuatan dimana kita membayangkan apa yang kita harapkan dan cita-citakan (berpikir). Pada dasarnya berkhayal bukan hal yang baik karena dapat membuat orang menjadi bingung dan memiliki tekanan batin atau bahkan dapat menyebabkan orang menjadi kehilangan jati dirinya. Ini disebabkan karena otak manusia memiliki kelemahan yang signifikan.

2.1.2 Tidak Pernah Terjadi
Kejadian dimana peristiwa di sekitar kita tidak mengalaminya, sama halnya dengan khyalan hanya pembedanya adalah tidak menggunakn media otak untuk berfikr kejadian yang di inginkan, hanya peristiwa yang tidak pernah terjadi dalam kehidupan manusia.

2.1.3 Tidak logis
Kebalikan dari logis yakni apa yang difikirkan oleh nalar tidak lah bisa masuk di akal. Tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Peristiwa atau kejadian yang hanya sebagai pendukung atau gambaran saja tidak bisa dibuktikan keberadaanya.

2.1.4 Kebenarannya relatif
Kebenaran yang bisa terjadi karena perbedaan pendapat antara satu orang dengan yang lainnya. Yang menyebabkan perbedaan kebenaran antara kebenaran satu dengan yang lain. Ini disebakan karena pandangan individu satu dengan yang lain berbeda. Sehingga menimbulkan kebenaran yang relatif.

2.2 KRITIK

2.2.1 Perbedaan Persepsi
Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.
Leavitt membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah manga.
Dari definisi persepsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi dan pengalaman-pengalaman yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk
2.2.2 Memberikan Saran
Saran adalah pendapat, usul, Anjuran yang dikemukakan untuk dipertimbangkan. Saran dikemukakan agar terjadi perbaikan atau peningkatan dari keadaan semula. Saran sebaiknya diajukan berdasarkan fakta atau data yang ada agar tepat sasaran dan yang diberi saran bersedia dengan senang hati mempertimbangkan dan melaksanakannya. Saran disertai dengan rasional/alasan yang mendukung untuk meyakinkan kebenaran usulan yang kita berikan.
Saran yakni menanggapi tindakan atau pendapat orang lain berupa usulan yang menurut pemberi saran adalah yang terbaik atau lebih baik dari sebelumnya. Untuk memberikan pendapat yang terdapat pada sebuah permasalahan atau yang disampaikan oleh seseorang.

2.2.3 Memberikan Penilaian
Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria baik buruk, dan bersifat kualitatif. Penilaian juga bisa diartikan sebagai suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh penilai untuk memberikan suatu opini  nilai yang didasarkan pada data/fakta yang objektif dan relevan denagn menggunakan metode / teknik tertentu.

2.2.4 Memberikan Inovatif Motivasi
Inovatif adalah kemampuan untuk menemukan nilai komersial dan kreatif. Inovatif membuat perbedaan tersebut memilki nilai komersil
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan.

2.3 REALITA

2.3.1 Nyata
            Realitas atau kenyataan, dalam bahasa sehari-hari berarti "hal yang nyata; yang benar-benar ada". Dalam pengertiannya yang sempit dalam filsafat barat, ada tingkat-tingkat dalam sifat dan konsep tentang realitas. Tingkat-tingkat ini mencakup, dari yang paling subyektif hingga yang paling ketat: realitas fenomenologis, kebenaran, fakta, dan aksioma.
Dalam pengertiannya yang sempit dalam filsafat barat, ada tingkat-tingkat dalam sifat dan konsep tentang realitas. Tingkat-tingkat ini mencakup, dari yang paling subyektif hingga yang paling ketat: realitas fenomenologis, kebenaran, fakta, dan aksioma.Defenisi realita berbeda dengan realitas. Realita setara fakta, namun realitas bermakna hakikat, kebenaran sejati. Hakikat bermakna abstraksi, atau sesuatu yang tidak tampak, tetapi sangat mempengaruhi pola gerak dan tindak manusia dalam sikap laku. Namun demikian, realitas bukan pula bermakna setara “ekternal” objek yang hanya bisa dirasakan, tetapi lebih dimaknai, diamalkan dalam setiap aktivitas gerak manusia.
Ketika realitas adalah hakikat, tentu saja sama kita ketahui bahwa kedudukannya lebih tinggi dna mengandung makna yang jauh lebih dalam jika dibandingkan realita/fakta. Hakikat bermakna kebenaran yang sesungguhnya, mendasar, yang paling pokok, esensial atau fundamental. Jika demikian, maka realitas adalah sesuatu hal yang bersifat murni, kekal tidak dipengaruhi oleh konflik dan kepentingan manusia baik perseorangan maupun komunal. Dalam pengertian tersebut, maka realitas adalah suatu keyakinan, kepercayaan. Merupakan seperangkat norma dalam sistem nilai, mengarahkan manusia terhadap kebenaran yang sejati. Oleh karena itu realitas lebih tepat disebut sebagai nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama atau adat budaya. Ia tidak saja dimaknai, tetapi diwujud reaksikan dalam sikap dan perilaku manusia pendukungnya.  
Dengan demikian, Hakikat realitas bersifat memaksa, mengingat setiap orang perseorangan atau kelompok untuk tunduk patuh terhadap isi kandungannya, namun konsekuensi sanksi dan imbalan terhadapnya ditentukan oleh fakta, atau perkembangan dinamika kehidupan.


2.3.2 Pernah Terjadi
Kejadian atau peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia, dan bisa di buktikan adanya peristiwa itu. Seperti halnya kejadian yang di alami oleh diri sendiri, yang mungkin saja bisa terjadi oleh orang yang sama.

2.3.3 Logis
Logis (berpikir logika) Logika (dari kata Yunani logos; berarti, pikiran, ide, argumen, alasan atau prinsip) adalah satu studi tentang prinsip-prinsip kebenaran tentang sesuatu baik secara inferens (sesuatu yang sudah diketahui secara tidak langsung) dan menampilkan (sesuatu yang diketahui setelah dilakukan penelitian). Pemikiran logis adalah cara pemikiran yang sering dan gemar digunakan dalam merencanakan sesuatu perkara. Secara umumnya logis dipahami sebagai apa yang bisa dipahami oleh akal manusia, yaitu menggunakan bukti untuk menjelaskan sesuatu yang tidak jelas pada awalnya.
Logika berasal dari kata Yunani yaitu "Logos" yang berarti pengucapan (utterence), pernyataan (statement), pemikiran (thought) dan pemikiran akal (reason) yaitu sebab. Logika iaiah cara mempelajari dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk membedakan benar dan salah suatu argumen (reasoning). Pemikiran secara logis adalah cara pandang seseorang melihat sesuatu dan daya upaya untuk mengidentifikasi apa yang salah dan apa yang benar menurut logiknya. Edward de Bono, dalam bukunya, Thinking Course, menyatakan bahwa logika adalah satu cara menghasilkan informasi dari suatu kondisi, Informasi yang ingin dihasilkan adalah sesuatu yang benar dan diterima akal. Berdasarkan pemahaman ini bisa disimpulkan baha berpikiran logis adalah suatu proses pemikiran yang mencoba mencari informasi, ilmu, data dan fakta mengenai kebenaran sesuatu perkara. Dengan kata lain, logika berarti alasan yang dikemukakan untuk memperkuat keadaan kedenaran yang bisa diterima oleh akal. Kebanyakan pemikiran yang benar dari segi logika terbukti salah jika dilihat dari sudut realitas alam dan kehidupan sebenarnya. Logis tentang sesuatu hal dari segi akal manusia semata-mata juga disebut logika metametika sedangkan logika berdasarkan realitas alam sebenarnya juga disebut logika natural atau logika alam.
Logika sangat berguna dalam pembetangan argumentasi yaitu ketika seseorang ingin mencari kesimpulan atau deduktif dan untuk mempertahankan argumen tentang sesuatu ide , saran dan pandangan; namun juga digunakan ketika ingin mencari sebab dan akibat suatu perkara dengan perkara lain dan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Logika mengacu pada urutan cara mendapatkan sesuatu rumusan berdasarkan beberapa asumsi kokoh. Logika juga digunakan dalam elektronik digital. Tingkah-laku sirkuit digital biasanya diputuskan melalui penggunaan sirkuit-sirkuit logika yang disebut get logis.
2.3.4 Kebenaran Konkret
Kebenaran yang sudah tentu adanya, dan dapat di buktikan kebenarannya. Kebenaran yang sudah paten dan tidak dapat di ubah karena sudah memilki dasaran yang kuat untuk menyebut itu sebagai sebuah kebenaran.
















BAB III
PEMBUKTIAN
3.1 Unsur Imajinatif
A. Khayalan
Ia bangkit dan berjalan mendekat, lalu berjonggok di sampingku. “aku Loui, bonekamu,” ujarnya tersenyum hangat. “sejak kau menginginkanku menjadi penggantinmu, aku mulai hidup. Namun masih dalam dunia semu dimana orang-orang mampu melihatku, sementara kau hanya merasakanku sebagai bayangan.tapi, ciumanmu semalam mengakhiri segalanya, kau telah membebaskanku dari kutukan. Terima kasih Lady,”

Penjelasan: penggarang membuat penggalan cerita tentang hidupnya boneka dalam kehidupan Lady untuk menonjolkan sisi khayalan yang ingin ia tunjukan kepada pembaca. Sehingga pembaca di buat berkhayal dengan imaji yang diciptakan oleh pengarang dalam penggalan novel di atas.

kau tidak sedang bermimpi. Aku pangeran dari sebuah kerajaan di dalam mimpi. Kau tidak akan tahu dimana letaknya. Seperti fantasi, tempatku hanya rekaan dalam pikiran manusia.”

Penjelasan: penggarang membuat penggalan cerita tentang hidupnya boneka dalam kehidupan Lady untuk menonjolkan sisi khayalan yang ingin ia tunjukan kepada pembaca. Sehingga pembaca di buat berkhayal dengan imaji yang diciptakan oleh pengarang dalam penggalan novel di atas.


B. tidak Pernah Terjadi
kau tidak sedang bermimpi. Aku pangeran dari sebuah kerajaan di dalam mimpi. Kau tidak akan tahu dimana letaknya. Seperti fantasi, tempatku hanya rekaan dalam pikiran manusia.”

Penjelasan: penggarang membuat penggalan cerita tentang hidupnya boneka dalam kehidupan Lady untuk menonjolkan sisi khayalan yang ingin ia tunjukan kepada pembaca. Sehingga pembaca di buat berkhayal dengan imaji yang diciptakan oleh pengarang dalam penggalan novel di atas.


C. Tidak Logis
Cuaca mendung membuat guratan-guratan bayangan gelap di tiap dinding di sisi kiri dan kananku. Gulungan awan kelabu tampak mengepul seperti sosok berjubah hitam di langit.

Penjelasan: dalam novel ini ada sisi tidak logis yang ingin di sampaikan oleh pengarang dengan gambaran sosok berjubah dalam awan-awan. Sehingga pembaca di buat berkhayal dengan imaji yang diciptakan oleh pengarang dalam penggalan novel di atas.


D. Kebenarannya Relatif
“Aku tak percaya Marionette berbicara, suaranya pelan dan datar, “jangankan orang yang mati. Terkadang orang-orang yang sudah mati sekalipun tidak pernah menyadari kalau dirinya sesungguhnya telah mati.”

Penjelasan: pengarang menggambrkan peristiwa logis yang dapat masuk di akal dengan penggalan cerita di atas dengan menggambrkan orang mati ketka ia tidak sadar bahwa ia telah mati.


3.2 KRITIK
A.  Perbedaan Persepsi
Aku membencinya!dia bayanganku, serupa tapi sangat berlawana! Tapi mengapa tak bisa serupa?”
“Ternyata au salah selama ini, klu pikir menjadi anak kembar itu menyenangkan daripada menjadi anak tunggal yang yatim piatu sepertiku. Tapi tidak selamanya seperti itu. Aku sellau iri melihat kalian berangkat-pulang sekolah bersama dengan bergandenga tangan, hidup ditengah keluarga yang mencintai kaliana. Nyatanya ada satu sisi kehidupan yang aku lupakan perbedaan, aku melupakannya.”

Penjelasan: dalam novel ada unsur konflik dan perbedaan persepsi terhadap kehidupan bersaudara kembar, yang di alami oleh tokoh Lucreta dan Leticia.


B. Memberikan Saran
Peristiwa kemarin masih terekam jelas di ingatankau. Aku masih mengingat bagaimana Marionette mencegah Darla dan temanya untuk tidak menaiki bus kuning itu.

Penjelasan: Maronette ingin memberikan saran terhadap Darla dan temannya untuk tidak menaiki bus itu, tetapi tidak di hiraukan oleh mereka karena Marionette di anggap omong kosong belaka. Disini pengarang menggunkan tokoh Marrionette untuk memberikan saran kepada Darla karena Marionette mengetahui kejadian yang akan terjadi.


C. Memberikan Penilaian
“Aneh”. Itu kata pertama yang melintas di benakku ketika melihatnya.

Hampir di sudut Nestor membicarakannya ( Marionette), ia menjadi topic hangar ratting tertinggi. Dari mulai sifat pendiamnya, kaus kaki hitam, rambut merah panjang, hingga poni rata yang di anggap konyol karena nyaris menutupi kadua bola matanya yang berwarna hijau.

Penjelasan: Pengarang membuat sosok Marionette dengan pandangan petama dengan memuculkan karakter aneh yang membuat orang disekitar Marionette menjadi di pandang sebelah mata oleh meraka, yang sebenarnya ia mempunyai sisi yang mistis dalam dirinya.


D. Memberikan Inovatif Motivasi


3.3 REALITA
A. Nyata
Aku terlahir dengan kemampuan bisa merasakan sesuatu yang hilang. Sesuatu yang hidup, tapi mati. Aku bisa merasakan energy dan keberadaan seseorang bila menyentuh barang kesayangan orang itu atau mungkin fotonya.

Penjelasan: dalam penggalan novel ini penggarang ingin menyampaikan peristiwa nyata seperti yang di atas menggambarkan sesorang yang mempunyai kelebihan untuk melihat sesuatu di alam bawah sadar manusia.

B. Pernah Terjadi
Ratapan Abby pada foto itu membuat batinku terimpit. Aku merasakan kepediahb yang dalam dari bola matanya. Kepedihan yang sama kurasakan saat ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil.

Penjelasan: dalam penggalan cerita di dalam novel ini penggrang ingin meggambarkan peristiwa yang pernah terjadi dengan gambaran seorang anak yang merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ketika mendapati kejadia tersebut. Yang disni kejadian ini hamper pernah dialami oleh manusia pada umumnya ketika ia melihat dan merasakan apa yang di alami oleh orang lain.
C. Logis
Aku tak percaya Marionette berbicara, suaranya pelan dan datar, “jangankan orang yang mati. Terkadang orang-orang yang sudah mati sekalipun tidak pernah menyadari kalau dirinya sesungguhnya telah mati.”

Penjelasan: pengarang menggambrkan peristiwa logis yang dapat masuk di akal dengan penggalan cerita di atas dengan menggambrkan orang mati ketka ia tidak sadar bahwa ia telah mati.

D. Kebenaran Konkret
Beati paupers spiritus quonium ipsorium est regnum caelorum.

Penjelasan: dalam novel ini ada penggalan cerita yang menambahakn kebenaran yang konkret untuk memperkuat verita yang ingin di samapaikan oleh pembaca, seperti penggalan di atas yang di ambil dari Kitab Matius yang artinya “berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga (Kitab Matius 5-3)”
































BAB IV
PENUTUP
4.1 SIMPULAN
Marionette adalah sebuah karya sastra yang dalam. Penggunaan bahasa serta isi yang terkadung didalamny memiliki kesan yang kuat dan dalam. Diambil dari sudut pandang orang pertama, walau berjudul “Marionette”, sang pengarang justru tak meletakan Marrionette sebagai tokoh utama dari setiap mini seri yang teradapat dalam novel tersebut. Walau jelas Marionette masih merupakan topik yang selalu ada dalam setiap mini serinya.
Marionette Minezzeko, adalah sebuah tokoh yang diciptakan sang pengarang sebagai tokoh seorang anak gadis kecil yng memiliki kelebihan dalam indra ke enam. Seorang gadis yang mampu mengetahui sesuatu yang terkadang tidak masuk akal bagi masyarakat umum. Novel ini sendiri menceritakan Marionette sebagai serng gadis kecil yang mampu berhebungan dengan kematian serta roh-roh gaib. Digambarkan sebagai tokoh yang bijak dalam artian yang sedikit menakutkan

4.2 SARAN
Kami mendapatkan banyak pengalaman dari tugas ini, namun kami mendapatkan kesulitan saat menggarap tugas ini, diantaranya: (1) kurangnya refrensi untuk dijadikan panduan saat menggarap tugas, (2) kurangnya waktu untuk konsultasi tugas. Untuk itu kami mengharapkan agar pemberian tugas selanjutnya  kami pendapat petunjuk berupa buku-buku refrensi dan juga mempunyai waktu yang efektif untuk konsultasi tugas.
Kami menyarankan kepada dosen pembimbing supaya menjadikan tugas kami ini sebagai refransi untuk adik tingkat, sehingga adik tingkat tidak mendapatkan kesulitan seperti kami.










DAFTAR PUSTAKA
Martin. Morgan. 2009. Marionette. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Artika. 2012. Khayalan. Diakses pada 25 September 2012 (http://artikata.com/arti-368456-khyalan.html).
Sumardjo. Jakob. 1994. pemahaman tentang karya sasta. Diakses pada 25 september2012 (http://pelitaku.sabda.org/pemahaman_tentang_karya_sastra).
Waroka. 2011. Pegertian norma dan macamnya. Diakses pada 27 september 2012. (http://warokakmaly.blogspot.com/2011/06/pengertian-norma-dan-macamnya.html)
Widyartono. Didin.  2011. Pengantar menulis dan membaca puisi. UM PRESS. Malang.
Wulan.2011. nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. Diakses pada 27 september 2012(http://lannwulann.blogspot.com/2011/04/nilai-nilai-yang-terkandung-dalam.html).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar